Antimoni adalah senyawa putih perak semi logam yang juga digunakan untuk mikroelektronik dan bahan tahan api (fire retardants). Selain itu, antimoni dapat digunakan dalam dunia kedokteran seperti pengobatan infeksi parasit. (Wikipedia, 2010).Antimoni dan senyawa turunannya bersifat toksik, dan efek keracunannya mirip dengan efek keracunan senyawa arsenik. Debu antimoni berbahaya jika terhirup dan pada beberapa kasus dapat berakibat fatal, pada dosis kecil antimoni menyebabkan sakit kepala, pusing dan depresi (Bowater, 2010). Menurut MSDS (Material Safety Data Sheet) Mallinckrodt Baker Inc. nomor A7152 tahun 1997 terdapat keterangan bahwa antimoni adalah cemaran yang beracun, bahaya, dan dapat berakibat fatal bila terhirup.  Dapat mengakibatkan iritasi, target serangan adalah system pernafasan, system kardiovaskular, mata, dan kulit.  Selanjutnya dapat diketahui bahwa dalam suatu prosedur kerja yang sering terekspos dengan antimoni seperti pekerja yang berproduksi plastik PET memiliki resiko tinggi keracunan apabila work safety tidak baik.  Dari MSDS diketahui bahwa apabila terhirup akan berakibat fatal, jika kontak dengan kulit akan mengakibatkan dermatitis, dan paparan yang berlebihan akan antimoni akan berakibat kerusakan ginjal dan hati (MSDS, 1997), menyebabkan muntah-muntah, bahkan kematian dalam beberapa hari (Wikipedia, 2010). Batas kritis paparan antimoni di udara adalah 0.5 mg/m3 (MSDS, 1997).Antimoni diregulasikan sebagai kontaminan pada air minum yang memiliki efek kronis dan akut pada kesehatan seperti mual, muntah-muntah dan diare jika terpapar antimoni lebih dari 6μg/L untuk jangka waktu yang pendek. Dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan meningkatnya kolesterol darah dan menurunnya kadar gula darah (Westerhoff dkk, 2007). USEPA belum mengklasifikasikan antimoni sebagai karsinogen dalam air karena kurangnya riset yang mendukung. Tetapi menurut Gebel (1997) menunjukkan bahwa antimoni dan arsen, terbukti karsinogenik dan sama-sama bersifat toksik.

Antimon trioksida asal kemasan pangan PETPolyethylene terephthalat (PET) adalah tipe plastik yang banyak disukai produsen air minum dalam kemasan (Borland, 2010). Hal ini dikarenakan PET yang jernih sesuai dengan kesan air alami (Westerhoff dkk, 2007). PET diproduksi melalui reaksi polimerisasi monomer petroleum asam tereftalat dan etilen glikol dengan katalis baik antimoni, titanium atau germanium. Tetapi tidak ada regulasi yang mengatur baik titanium dan germanium di dalam air minum. Katalis antimoni digunakan oleh lebih dari 90% produsen PET di seluruh dunia (Westerhoff dkk, 2007). Setelah proses pembuatan PET masih terdeteksi sejumlah antimon pada permukaan produk.  Residu antimoni trioksida yang terdapat di permukaan ini dapat dihilangkan dengan cara dicuci.  Sehingga konsentrasi  antimoni lebih tinggi ditemukan pada  minuman dengan kemasan PET yang diproduksi tanpa prosedur pencucian dibanding PET yang  mengggunakan prosedur pencucian (Cheng dkk, 2010). Walau residu dari permukaan dapat dicuci, masih  ada kemungkinan terdapat residu antimon trioksida juga di dalam plastik PET itu sendiri (Wikipedia, 2010).  Antimoni yang masih ada tersebut dapat bermigrasi ke bahan pangan yang dikemasnya terutama yang berbentuk cair.  Menurut Westerhoff dkk (2007) yang melakukan penelitian mengenai pelepasan antimoni PET pada minuman kemasan di Amerika Serikat melalui suatu model kinetika pelepasan antimoni dari PET, secara umum dapat disimpulkan bahwa migrasi komponen antimoni ke bahan cair adalah rendah pada suhu dibawah 600C, sedangkan pada suhu lebih tinggi laju migrasi komponen antimoni tinggi. Oleh karena itu tidak boleh menyimpan minuman dengan kemasan plastik PET pada suhu tinggi.  Minuman dengan kemasan PET sebaiknya tidak direbus maupun dipaparkan terhadap gelombang mikro (pada microwave) karena akan menimbulkan panas pada partikel PET sehingga meningkatkan level antimoni secara signifikan (Cheng dkk, 2010).  Konsumen yang membeli minuman dengan kemasan plastik PET dapat memiliki kemungkinan menyimpan produk pada suhu diatas  600C seperti misalnya saat menyimpan air mineral di bagasi mobil yang akan digunakan saat bepergian (Westerhoff dkk, 2007). Dalam artikel yang ditulis oleh Corriher (2010) disebutkan bahwa hasil penelitian di Kanada menyebutkan konsentrasi awal cemaran antimoni pada air adalah 2 ppt, namun begitu setelah air tersebut dikemas menjadi air minum dalam kemasan konsentrasi antimoni meningkat menjadi 160 ppt, dan meningkat menjadi 630 ppt setelah penyimpanan 6 bulan.  Hal tersebut memberikan informasi bahwa selain dipengaruhi suhu, laju migrasi komponen antimoni trioksida juga dipengaruhi oleh lamanya penyimpanan minuman  dengan kemasan PET.Antimoni tidak kompatibel dengan oksidator kuat, asam halogen, klorin dan fluorin (Wikipedia, 2010). Dalam artikel Montague-Jones (2010), menyatakan bahwa telah ada studi yang menemukan bahwa asam organik adalah ekstraktor yang efisien bagi antimoni. Sehingga Hansen dkk dari Universitas Copenhagen menguji hipotesis apakah antimoni lebih banyak terdapat pada jus dalam kemasan PET dibanding air mineral dalam kemasan PET. Salah satu hal yang mencolok dari studi ini adalah jumlah antimoni yang terbanyak terdapat pada jus dengan kadar karbohidrat tertinggi. Sehingga mereka menyimpulkan bahwa karbohidrat mungkin membantu dalam pelepasan antimoni.  Penggunaan PET yang tidak hanya untuk minuman air dalam kemasan tetapi juga sebagai filter pada produk minuman ringan, bahan pengemas produk pangan dan industry farmasi (Shotyk dkk, 2006). Hal ini menyebabkan resiko paparan terhadap antimoni meningkat.

Antimoni juga digunakan sebagai opacifier (pengkeruh) pada kemasan gelas sehingga terdapat juga pelepasan antimoni pada minuman dengan kemasan gelas, tetapi jumlahnya jauh lebih kecil dibanding kemasan PET (Shotyk dkk, 2006). Sebenarnya antimoni yang mencemari minuman bukan saja berasal dari pengemas plastik PET namun sejak didapat dalam mata air telah terdapat cemaran logam ini namun jumlahnya sangat kecil.
Antimoni ditemukan di 16 merek populer dari jus dan squash di Inggris (Bowater, 2010).   Hal yang  dipublikasikan oleh The Royal Society of Chemistry membuat masyarakat pemerhati kesehatan anak khawatir .  Sementara itu peneliti dari University  of Copenhagen menemukan kandungan antimoni pada minuman buah lebih tinggi daripada yang diizinkan oleh asosiasi air keran Eropa.  Dari artikel  yang ditulis oleh Sophie Borland pada mail online Daily Mail UK (2010) disebutkan bahwa  ditemukan cemaran antimony dari botol plastik kemasan air mineral ke air mineral yang dikemasnya di Jerman pada tahun 2006.  Pada tahun 2005, air mineral dalam kemasan merek “Volvic” dari Danone ditengarai mengandung zat kimiawi berbahaya pada beberapa sampel botol yang diteliti, namun belum jelas apakah zat berbahaya tersebut adalah antimony.

Terdapat beberapa peraturan mengenai paparan maksimal dari antimoni secara umum dan ini berlaku pula pada antimoni trioksida residu dari proses pembuatan plastik PET yaitu (Westerhoff dkk, 2007 dan Shotyk dkk, 2006) : ·         World Health Organization (WHO) : 20 μg/L ·         United States Environmental Protection Agency dan Health Canada and the Ontario Ministry of Environment : 6 μg/L·         Jepang : 2 μg/L·         German Federal Ministry of Environment : 5 μg/L ·         European Union: 5 ug/L·         US Environmental Protection Agency (USEPA) : 6μg/LSeluruh regulasi tersebut dinyatakan per liter karena pada umumnya pengemas PET digunakan untuk mengemas pangan berbentuk cair dan μg/L setara dengan ppb.

Shotyk dkk (2006) mengemukakan bahwa penelitian lanjutan diperlukan untuk mengetahui hubungan antara konsentrasi antimoni pada polimer dan laju migrasinya dalam air; hubungan antara laju migrasi dengan suhu, pH, keberadaan anion dan kation, kondisi penyimpanan dan waktu reaksi; berapa banyak antimoni dalam bentuk Sb(III) dan Sb(V); efek pH pada minuman asam tinggi (cola, jus jeruk dan sebagainya) dengan pelepasan antimoni; efek dari asam sitrat dan asam organik lain dalam laju migrasi antimoni; serta efek dari pengkondisian kemasan dengan pencucian recycling dan reuse.

Antimoni yang digunakan sebagai katalis PET dapat bermigrasi dari plastik PET yang digunakan untuk mengemas minuman baik air mineral maupun jus. Migrasi antimoni harus menjadi perhatian bagi produsen minuman karena antimoni dapat menyebabkan efek yang akut dan kronis bagi kesehatan. Laju migrasi antimoni dipengaruhi beberapa faktor antara lain suhu, lama penyimpanan, dan kondisi bahan pangan. Produsen minuman dalam kemasan harus mempertimbangkan kondisi penyimpanan dan pengangkutan serta mempertimbangkan memilih plastik yang tidak melepaskan antimoni (seperti plastik yang dibuat dari titanium atau germanium (Shotyk dan Rachel, 2007; Thiele 2004)). Penelitian lanjutan perlu dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor lain yang mempengaruhi migrasi antimoni.

Daftar pustaka

Anonim. 2010. Antimony. http://en.wikipedia.org/wiki/Antimony“>http://en.wikipedia.org/wiki/Antimony [11 Oktober 2010]

Anonim. 2010. Polyethylene Terephthalat. http://en.wikipedia.org/wiki/Polyethylene_terephthalat [11 Oktober 2010]

British Soft Drinks Association. 2010. Borland, Sophie. 2010. Fruit Juice Cancer Warning as  Scientists Find Harmful Chemical in 16 Drinks. http://www.dailymail.co.uk/news/article-1254534/Fruit-juice-cancer-warning-scientists-harmful-chemical-16-drinks.html [11 Oktober 2010]

Bowater, Donna. 2010. `Poison` drinks health scare. http://express.co.uk/-poison-drinks-health-scare.html [11 Oktober 2010]

Cheng, X., Shi, H., Adam, CD., dan Ma, Y. 2010. Assesment of metal contamination leaching out from recycling plastik bottles upon treatments. Environ. Sci. Pollut. Res. Int. 17 (7): 1323-1330

Corriher, Thomas. Poisonous Plastic Container. http://www.healthwyze.ore/poisonous-containers.html [11 Oktober 2010]

Gebel, T. 1997. Arsenic and antimony: comparative approach on mechanistic toxicology. Chem. Biol. Interact. 107 (3), 131-144.

Montague-Jones, Guy. 2010. Scientists find antimony in juice above EU drinking water limits. http://www.beveragedaily.com/content/278477 [11 Oktober 2010]

MSDS (Material Safety Data Sheet). 1997. Antimony. http://www.mallbaker.com/americas/msds/english/a7152_msds_us_default.pdf [11 Oktober 2010]

Shotyk, W., Krachler, M., Chen, B. 2006 Contamination of Canadian and European bottled water with antimony from PET containers. J. Environ. Monit. 8 (2), 288-292.

Shotyk, W., Rachler, M. 2007. Contamination of bottled waters with antimony leaching from polyethylene terephthalat (PET) increases upon storage. Environ. Sci. Technol. 41, 1560-1563.

Thielle, UK. 2004. Quo vadis polyester catalyst? Chem. Fibres Int. 54, 162-163.Westerhoff, Paul dkk. 2007. Antimony leacing from polyethylenen terephthalat (PET) plastic used for bottled drinking water.

Search